Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

iklan

Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 05 Agustus 2013

belajar dari einstain, pelopor juragan motor listrik

Bogor, KompasOtomotif – PT Nipress Tbk sebagai bagian dari konsorsium riset baterai sekunder lithium tancap gas menyiapkan line produksi baterai lithium untuk mobil listrik produksi massal Indonesia dan sektor industri. Ditargetkan, pada 2015 baterai lithium sudah fulllokal, mulai dari cell, module, sampai packaging.Investasi besar sudah disiapkan PT Nipress Tbk sebagai pemegang aki kendaraan merek NS, untuk meraih target tersebut. Ada tujuh line untuk produksi cell dan module yang masing-masing disuntikkan dana 55 dan 10 juta Dollar AS. Harapannya, ada permintaan paling tidak 6.000-an mobil listrik per tahun di Indonesia.”Kita sudah bisa membuat sendiri (baterai lithium) semuanya. Cuma saat ini kami memilih untuk impor cell-nya karena belum ada pasarnya. Kelak, kalau demand sudah ada, kami akan sangat mendukung. Tapi target 2015 semua lokal tetap dikejar, karena kami juga memasok baterai lithium untuk industri bahkan BTS berbagai provider,” jelas Richard Tandiono, Direktur Operasional PT Nipress Tbk.Mobil Listrik MassalTarget itu sejalan dengan niatan pemerintah yang ingin mengembangkan mobil listrik buatan Indonesia. Meski belum ada rumusan pasti, kemajuan sudah dilakukan dengan pernyataan Menteri BUMN Dahlan Iskan beberapa waktu lalu agar semua kendaraan yang digunakan untuk keperluan KTT APEC di Nusa Dua, Bali, Oktober 2013 mendatang tak boleh berbahan bakar, harus kendaraan listrik.

Mobil listrik produksi massal juga sedang serius dikembangkan berbagai instansti terkait. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dengan berbagai tipe yang diuji coba. Mobil dibangun di LIPI, Bandung. Sumber tenaga dipasok PT Nipress Tbk. Bahkan sudah ada mini bus warna merah yang sudah berkeliaran diuji coba di Yogyakarta.

”Momen APEC akan dimanfaatkan sebagai promosi mobil listrik Indonesia produksi massal. Kami akan terus melakukan pengembangan. Tahun depan, direncanakan sudah ada prototipe,” tegas Hari Purwanto, Sekretaris Menteri Riset dan Teknologi (4/7).
Editor : Bastian


Sabtu, 27 Juli 2013

Bagi calon juragan, harus tahu basic teory

Apa bedanya menjual dan  memasarkan? Pengertian kedua istilah itu memang suka rancu. Apalagi perusahaan pada umumnya lebih suka memakai marketing executive ketimbang salesman untuk tenaga penjualannya. Alasannya, ‘salesman’ berkonotasi negatif di benak konsumen ketimbang ‘marketing executive’ yang kedengarannya lebih mentereng. Padahal, salah besar nih. (menurut saya).


Padahal peran sales sama pentingnya dengan marketing. Memang keduanya sama-sama ‘jualan.’ Perbedaannya, adalah sales benar-benar berjualan dalam arti yang sebenarnya yakni mendatangkan uang. Sales berusaha membuat transaksi: memindahkan uang dari kantong konsumen masuk ke kas perusahaan. Key Performance Indicator (KPI) utamanya adalah target penjualan.

Sementara itu pengertian jualan di marketing lebih pada meraih perhatian, pikiran dan hati konsumen sehingga mereka mau membeli produk kita. Bukan hanya berkeinginan membeli tetapi juga menjadi konsumen yang loyal. Jadi, kalau di sales kita berusaha memenangkan kantong konsumen, di marketing kita berusaha memenangkan persepsi konsumen.

Hubungan Sales dan Marketing

Sales baru bekerja setelah produk sudah tersedia sedangkan marketing sudah sibuk jauh hari sebelum produk diluncurkan. Adalah marketing yang merancang strategi produk melalui apa yang kita kenal dengan Segmentasi, Targeting dan Positioning (STP). STP itu lalu diwujudkan dalam marketing mix yang terdiri dari Product, Price, Place dan Promotion (4P).

Setelah strategi marketing selesai dirumuskan, produk sudah jelas STP-nya, barulah sales bekerja. Jadi marketing ada di tingkat pemikiran sedangkan sales pada level pelaksanaan. Jika pemikirannya betul, maka pelaksanannya pun betul.

Ibarat di dunia militer, marketing adalah saat dimana rencana penyerbuan disusun. Di mana lokasi musuh, berapa kekuatannya, berapa banyak logistik yang harus disiapkan dan bagaimana cara menjangkau lokasi. Jika strategi benar, eksekusinya benar.

Dengan demikian salesman tahu harus fokus ke konsumen yang seperti apa ketika menjual produk, tidak asal ketemu orang, langsung menawarkan produk. Salesman juga tahu harus ngomong apa ke konsumen, apa yang membedakan produknya dengan kompetitor. Salesman know what to expect sehingga mereka bisa lebih efektif.